5 Gambar Ini Skak Matt Sinetron Di Indonesia

Hai para sahabat Bloger, kalian tau gak bahwa tayangan sinetron sudah sangat melekat sekali di industri pertelevisian Indonesia. Sudah banyak kritikan yang diterima oleh sinetron Indonesia yang banyak adegannya dinilai kurang mendidik.

Namun meskipun begitu entah masih banyak masyarakat yang begitu menyukainya. Bahkan sampai tak terima jika mereka melewatkan satu episode dalam penanyangannya.

Sampai zaman sekarang ini sinetron di Indonesia malah tidak semakin menunjukkan kualitas yang membaik. Ceritanya yang masih tidak mendidik dan  juga absurd. Untuk meluapkan kegeramannya sebagian Netizen membuat Gambar Lucu untuk menyindirnya.

Berikut ini saya rangkum beberapa Gambar Lucu sebagai bentuk sindiran bagi sinetron Indonesia yang dirangkum dari situs brilio.net dan lucu.me

1. Kenyataan yang berbanding terbalik dengan tayangan di luar negri 😭

Image Lucu.me

“Jika diluar negri para binatang malah menjadi artis film, disini malah kebalikannya seperti sinetron yang satu ini”

2. Bahkan yang dikota kadang kalah modis ya 😎

Image Brilio.net

“Gak perduli mau tinggal dimana sekalipun dihutan yang namanya penampilan jelas nomor satu ya”

3. Iya juga ya 😓

Image Brilio.net

“Salah satu keanehan sinetron di negara kita ya ini tokoh utamanya siapa, eh jalan ceritanya kemana-mana malahan pemeran pendukung dapat seat lebih banyak”

4. Kapan ngajinya 😅

Image Brilio.net

“Pernah gak sih kalian menyaksikan adegan ngaji disalah satu sinetron yang kalian tonton, kita gak melihat adegan ngajinya tau-tau sudah selesai”
 
  

5. hha,benar juga ya 😲

Image Brilio.net

“Adegan klasik di film ini memang benar-benar bikin kita bingung setengah mati, karna unit gawat darurat yang seperti kita tau letaknya selalu didepan”

Image Brilio.net

Apa pendapat kalian?

😃😃😂😂😨😨

Kejahatan dibalas Kebaikan

Sobat, siapa makan cabe  akan kepedasan, ngemut gula akan kemanisan,  mengulum garam akan keasinan, serta mengunyah asam akan kekecutan. Siapa main api kepanasan, main air kebasahan, main minyak wangi kewangian. 


Pun, dalam tindak tanduk berlaku pula logika serupa, persis seperti ternukil dalam ajaran Islam: (In ahsantum  ahsantum lianfusikum wain asa’tum falaha), “jika engkau berbuat kebajikan akan berakibat baik padamu, dan bila engkau berbuat buruk akan berakibat buruk pula padamu”. 

Itulah hukum sebab akibat dalam kehidupan, atau dalam istilah Islami nya disebut Sunnatullah bin hukum karma.
Melalui logika sebab akibat itulah, manusia diberi akal –disamping kemauan (nafsu bin syahwat) nya — untuk terlebih  dahulu berpikir sebelum melangkah, berpikir sebelum bertindak, lengkap dengan kalkulasi untung rugi alias manfaat dan mudharatnya.  Semua tingkah laku kita akan ada  akibatnya, akan ada pertanggungjawabannya. 

Di dunia kita akan mendapat balasan atas tingkah laku kita, di akherat apalagi, kita akan pula mendapat akibat dari semua tindakan kita.  surah azzalzalah: “Faman ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiroyyaroh, waman ya’mal mitsqoola dzarrotin syarron yaroh”: (barangsiapa berbuat kebajikan sekecil apapun akan mendapat balasan, dan barangsiapa berbuat keburukan sekecil apapun akan mendapat balasan pula).
Sobat, ingatlah bahwa Tuhan akan memintai pertanggungjawaban kita sampai sedetil-detilnya, termasuk pertanggungjawaban   dari  hati kita.  (Innassam’a wal bashoro wal fuaada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu masuulaa): sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban atas  apa yang telah dilakukannya.

Logika sebab akibat tadi, prinsip tanggung jawab atas apa yang  telah dilakukan tadi, hakekatnya mengajarkan manusia untuk senantiasa menggunakan akal pikiran dan atau pertimbangan nya untuk melakukan segala sesuatu, bukan grusa-grusu bin hantam kromo alias asal-asalan.  Berpikir jernih, dengan landasan iman. . Sebab, apapun yang  kita putuskan, apapun  yang kita lakukan, akan membawa implikasi.

Sobat, akibat pada umumnya satu garis dengan penyebabnya. Pintar karena  belajar, bodoh karena malas dll.  Begitu pula Penyesalan sebagai akibat ketergesaan, dan kesalamatan sebagai akibat kehati-hatian. Fitta annissalaamatu wa fil ‘ajalatin nadaamatu.   Bahkan, dalam konteks hukum Islam pun berlaku logika ini, yakni hukum Qishos. 

Anda memukul hidung, hukumannya harus ganti dipukul hidung,  dan bila  anda membunuh hukumannya harus ganti dibunuh.
Islam sama sekali tak mengajarkan, dipukul pipi kiri diberikan  pipi kanan. Hal itu jelas sangat  bertentangan dengan kodrat manusia,  bahkan kondrat alam  semesta pada umumnya. 

Namun demikian, Islam mengajarkan agar kejahatan perlu disikapi dengan kesabaran, dengan kebaikan: idfa’ billatii hiya ahsan (Q.S. Fusshilat: 34).  Sebab: innal hasanaati yudzhibnas sayyiaati: bahwa kebaikan akan menghapuskan keburukan(Q.S. Al Huud: 114). Hal ini persis  dengan sabda nabi, wa atbi’is sayyiatal hasanata tamhuha: Ikutilah keburukan dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapusnya.

Kebaikan dan kebenaran memang dapat meluluhkan keburukan.  Jaa alhaqqu wazahaqolbaathil, innalbaathila kaana zahuuqoo: jika kebenaran datang kesesatan akan musnah, sebab kesesatan memang pasti akan musnah. Namun jika kejahatan serupa berulangkali dilakukan maka “wajib” bagi kita untuk melakukan pembalasan agar tidak senantiasa diremehkan. Pantang bagi Muslim untuk tersengat oleh lebah yang  sama untuk kedua kalinya.

Untuk langkah model ini saja yakni membalas keburukan  dengan kebaikan susah dilakukan, kecuali hanya mampu dilakukan oleh orang-orang pilihan, semisal Abu Dzar Al Ghifari. Memangnya dia itu siapa, dan keunikan apa yang telah dilakukannya ?

Abu Dzar adalah seorang dari sekian orang sahabat nabi yang berislam secara sendirian (bahkan meskipun belum pernah melihat apatah ketemu nabi pujaan), dan ketika meninggalpun juga berada dalam kesendirian.  Itulah keunikan  hidupnya. Tapi, masih ada lagi keunikan lain terkait dengan akhlaqnya yang  sangat terpuji.  Setiap kesalahan yang  dilakukan orang lain terhadapnya, dia pasti memaafkannya bahkan membalasnya dengan kebaikan terhadap pelakunya. Subhanallah. 

Sikap itu ia kembangkan sebagai perwujudan pengamalan dari perintah Allah Ta’ala melalui firmannya, “Innaal hasanaati yudzhibnassayyiiaati, bahwa  sesungguhnya kebaikan itu menghapuskan kejahatan”.

Sikap  khas Abu Dzar ini dipahami betul oleh abdi (budak) nya, yang kala itu di hatinya terbersit keinginan untuk menjadi orang  merdeka. Untuk merealisir ambisinya, sang abdi merancang sebuah rekayasa yakni dengan  membuat Abu Dzar marah, yang sudah pasti pembalasan yang akan  dilakukan (Abu Dzar) adalah kebaikan.

Suatu hari, setelah rencana dimatangkan, sang budak merealisir siasatnya, yakni sengaja melepas  kambing-kambing dari kandangnya, bahkan membiarkan para kambing itu memakan cadangan makanan kuda. 
Walhasil, rumput jatah makanan kuda dihabiskan alias ludes oleh kambing-kambing yang sengaja dilepaskan.
Ketika Abu Dzar pulang dari bepergian dan hendak memberi makanan kuda kesayangan, didapati rumput telah kosong melompong dari tempatnya. Kontan Abu Dzar memanggil abdinya, dan bertanya padanya tentang rumput yang tidak lagi  tersisa.

Sang abdi menjawab  terus terang pertanyaan si majikan, “Tuan. Saya memang sengaja melepaskan kambing-kambing anda, sekaligus membiarkan mereka menghabiskan makanan kuda”.
“Kenapa kau melakukan hal itu?, tanya Abu Dzar pada Abdinya.
Sang abdi menjawab, “Saya ingin sekali membuat anda marah kepadaku“.

Menanggapi abdinya yang cari-cari masalah, Abu Dzar memohon ampun kepada Allah atas sedikit kemarahan yang sempat terbersit di hati. Lalu dia berkata, “Aku akan kumpulkan kemarahanku dengan pahala. Sejak saat ini kamu merdeka karena  Allah“.

Sobat, subhanallah. Itulah keutamaan sikap Abu Dzar yang patut diteladani,  menyikapi kejahatan dengan kebaikan. Padahal imbalan bagi sebuah kebaikan adalah kebaikan pula : hal Jazaaul ihsaani illal  ihsaan(Q.S.  Ar Rohman: 60), bahkan sepuluh kali  kebaikan :man jaa a  bilhasanati falahu ‘asyru amtsaalihaa.  Mungkinkah kita mampu mengikutinya ? Jawabnya, memang sangat sulit bin susah, meskipun bukan mustahil.

Namun, meski tak mampu setidaknya kita bisa mencoba sikap pada level yang lebih rendah darinya (membalas kejahatan dengan kebaikan) dengan cara menyikapi kejahatan dengan pemaafan dan kesabaran. Tapi, jika tak mampu lagi, maka cukup menyikapi kejahatan dengan balasan yang setimpal (qishas) yang dilakukan secara tidak berlebihan, sebab Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.

Seperti Menapaki Jalan yang Bercabang

Sungguh hukum hukum yang Allah Subhannahu wa Ta’ala gariskan tidak selayaknya disambungkan dengan logika, tetapi aktifitas berfikir dari logika itulah yang harus diselaraskan dengan informasi dan fakta fakta dari Al-Qur’an yang telah diterangkan dengan terang benderang dalam berbagai tuntutan dan sunnah sunnah Rasulullah sholalah ‘alaihi wa sallam.

Jika kita telah meneguhkan hati untuk memilih jalan menuju pertemuan dengan Allah, maka tidak ada pilihan lain selain mematuhi firman firman dan ketentuan-Nya secara menyeluruh berdasarkan tuntutunan dan arahan dari Rasul-Nya, bukan berdasarkan kecerdasan logika. Apalagi hanya disesuailan dengan kebutuhan manusia yang sifaynya hina dan fatamorgana.

Pict Via Google

Jika kita mencampuradukan keduanya, maka hilanglah HAQ kita untuk bertanya, apalagi berargumentasi dan mengeluhkan nasib diri yang tidak kunjung bahagia. Tentu saja disana tidak akan pernah ada kebahagiaan, disana iman hanya sebyah kisah klasik yang tak ada harganya, hanya tunggul yang menjemukan dan tidak bertunas.

Sebuah ketidakmungkinan jiwa akan tenang dan bahagia, jika tidak pernah mencari dan mengaitkan kebahagiaan hati dengan iman itu sendiri. Akankah kita mengecup manisnya buah dari iman jika pohonnya tidak pernah disirami, disayangi dan dipelihara?”

Benih-benih yang tertanam bersama fitrahnya hati itu tidak tumbuh dengan sempurna. Pohonnya tidak tegap, ia mudah digoyahkan, mudah menoleh kemana arah angin berhembus, mudah mengikuti berbagai seruan, rantingnya rapuh dan mudah patah dengan beban berat kehidupan, akarnya tidak lagi kuat dan mencengkram. Hingga ketika badai itu datang, ia tumbang dengan mudahnya. Pohon itu terhanyut dan larut bersama berbagai kekalahan dan kegagalan-kegagalan di persimpangan ini.

Di Atas Sajadah Ku Menunggu Mu

Kurindu cinta_Mu, kurindu kasih_Mu, kurindu setiap belaian lembut_Mu didalam hatiku yang gersang, adakah Engkau merindu aku ya Allah, kudatang pada_Mu hanya dengan secuil cintaku, kuingin segenap perasaanku hanya terpaut pada_Mu, tak bisaku menjauh dari_Mu, saat kujauh, saat kumelupakan_Mu, tersirat rasa pedih dihati, tak ada kedamainan didalam hatiku, kusangat merasakan kegelisahan dihati, menangis hatiku saat kurasakan diriku jauh dari_Mu, perih hatiku saat cintaku tak tertaut pada_Mu, kosong jiwaku saat tak ada Engkau.


Setiap gerak ku, setiap gerak langkahku, setiap gerak tubuhku, ku ingin hanya Engkau yang ada di ingatanku, kuingin hanya Engkau yang ada dihatiku, kuingin hanya Engkau yang ada didadaku, harapan yang aku miliki kuingin hanya Engkau yang mengetahui_Nya, setiap derita yang kualami kuingin hanya Engkau pelipur lara, setiap keluh kesah yang menghampiri kuingin hanya Engkau tempatku mengaduh, setiap kebahagiaan yang menyapa kuingin hanya Engkau yang menemani.

Dalam hati aku selalu berharap hanya pada_Mu, cobaan dan ujian yang telah Engkau titipkan, sangat bermakna dalam hidupku, aku dapat merasakan begitu besar kasih sayang_Mu padaku, aku sadar melalui cobaan itu Engkau menilai cintaku pada_Mu.

ya Allah ya Tuhanku, kutak ingin menduakan cinta_Mu, ku tak ingin berpaling dari_Mu, ku tak ingin lagi merasakan kehampaan dalam hidup ini, dulu aku kira memiliki seorang pendamping yang setia, memiliki sahabat yang setia dan baik adalah pelipur segala keresahan hati, tapi aku salah ya Allah, kini aku temukan jawabannya, bahwa hanya Engkau yang mampu menenangkan hatiku. Hanya Engkau yang mampu mengobati hatiku yang hampa.

Kehadiran_Mu dihatiku terasa indah, cinta_Mu padaku mendamaikan diriku, setiap kali mengingat Engkau, setiap kali menyebut dan mendengar nama_Mu, aku meneteskan airmata, begitu mulianya Engkau, memberiku kesempatan tuk mengenal_Mu dan mencintai_Mu .

Saat kumendengar orang lain menjelekkan nama_Mu dan mengingkari kasih sayang_Mu, perih hatiku mendengarnya, kuingin berteriak dan berkata pada mereka bahwa Engkau adalah kekasihku yang sangat mulia tak tertandingan kebesaran_Mu, mereka tak mengenal_Mu, kuingin memperkenalkan Engkau kepada mereka.

Ya Allah, temani aku disetiap saat, jangan biarkan aku menjauh dari_Mu, jangan tinggalkan aku lagi, tetaplah disisiku tuk selamanya, terangilah setiap langkahku, luruskanlah setiap niatku, ku tak ingin merasakan lagi kesepian karena tak ada Engkau disisiku, Engkaulah yang pantas kujadikan kekasihku penenang jiwaku.

Engkau telah setia menemaniku,

mendengar curahan hatiku,

berkeluh kesah dihadapan_Mu,

dengan sabar Engkau mendengarku,

dengan setia Engkau datang memenuhi panggilanku,

di atas sajadah kuserahkan segala cintaku,

diatas sajadah kita bertemu tuk berkasih sayang,

diatas sajadah Engkau setia menemaniku,

diatas sajadah Engkau datang memenuhi janji_Mu,

diatas sajadah aku menunggu_Mu

ya Ilahi Robbku….

3 Pesan Tersembunyi di Balik Kucing Mendekati Kita Saat Makan

Cats are one of Allah creatures were very well liked. Because her face is cute and adorable, I wonder if the cat is often used as pets.

Pict Ilustration’s
In one of history mentions that the Prophet Muhammad also adopted a cat named Mueeza. He treats his pet cat was very good, although only animals.

Apart from all that, sometimes we like annoyed when there are cats come to us when they eat and then throw him out. But you know behind the cat approached us while feeding, it turns out there is a hidden message?

Here are some of the messages that you have to understand when there is a cat approaches you while eating.


1
. Signs of Allah

Cat coming when we eat is a sign from Allah to remind us that all the sustenance we have not fully belong to us, such as giving zakat fitrah and zakat.

In the context of the cat, gave not only for people, but to animals as well we should be nice. Most sustenance we receive must be shared with other creatures such as cats, as equally Allah creatures.

2. Learn to give with full sincerity

Feed the cat is definitely considered a favor by Allah. According his word, Allah will multiply the goodness to 10 times more goodness. That means, even giving a small thing, but can later be repaid with greater.

In contrast to give to humans who sometimes we expect to get in return, gave the cat to train us to learn sincere. Because the cats would not repay us for what has been given to him. When we feed the animals, we have learned to give willingly.

3. Refusing sustenance will come

When we did not feed the cat, Allah told him that we have rejected the sustenance which God has given to us. Keep in mind, the provision is not only the money, but it covers everything, like tranquility within ourselves.

Learning from the third message, may we be servants of Allah who diligently help others without expecting reward from anyone except from Allah.

***

Kucing merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang sangat disukai banyak orang. Karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan, tak heran jika kucing sering dijadikan binatang peliharaan.

Pict vis Google
Dalam salah satu riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga memelihara seekor kucing bernama Mueeza. Beliau memperlakukan kucing peliharaanya itu dengan sangat baik, meski hanya hewan.

Terlepas dari semua itu, terkadang kita suka kesal ketika ada kucing menghampiri kita saat sedang makan dan kemudian mengusirnya. Tapi tahukah Anda di balik kucing mendekati kita saat sedang makan, ternyata ada pesan tersembunyi?

Berikut beberapa pesan yang harus kamu pahami ketika ada kucing mendekati kamu saat sedang makan.

1. Pertanda dari Allah SWT
Kedatangan kucing saat kita makan merupakan pertanda dari Allah SWT untuk mengingatkan kita bahwa semua rezeki yang kita miliki tidak sepenuhnya milik kita, seperti memberi zakat fitrah dan zakat harta.

Dalam konteks kucing, memberi bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi kepada hewan juga kita harus bersikap baik. Sebagian rezeki yang kita terima harus dibagi dengan makhluk lain seperti kucing, karena sama-sama makhluk ciptaan Allah.

2. Belajar memberi dengan penuh keikhlasan
Memberi makan kucing sudah pasti dianggap kebaikan oleh Allah SWT. Sesuai firmannya, Allah akan melipatgandakan satu kebaikan dengan 10 kali lipat kebaikan lainnya. Itu berarti, walaupun memberi hal kecil, tapi nanti bisa dibalas dengan yang lebih besar.

Berbeda dengan memberi kepada manusia yang terkadang kita berharap mendapat imbalan, memberi kepada kucing melatih kita untuk belajar ikhlas. Pasalnya, kucing tidak akan membalas kebaikan kita atas apa yang sudah diberikan kepadanya. Ketika kita memberi makan hewan ini, kita sudah belajar memberi dengan ikhlas.

3. Menolak rezeki yang akan datang
Ketika kita tidak memberi makan kucing, Allah memberitahu bahwa kita sudah menolak rezeki yang akan Allah berikan kepada kita. Perlu diketahui, rezeki itu bukan hanya sekedar uang, tapi meliputi segala hal, seperti ketenangan dalam diri kita.

Belajar dari ketiga pesan tersebut, semoga kita menjadi hamba Allah yang rajin menolong sesama tanpa berharap imbalan dari siapa pun kecuali dari Allah.

Selamat membaca, semoga bermanfaat ya guys.

Tergantung Niat

​Assalamualaikum para bloger, udah lama banget ya gak ngepost, hehe. Oya, langsung aja pada pokok pembahasan kali ini admin mau menerangkan sedikit tentang niat. Semoga bermanfaat untuk yang membaca.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”
(HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat
Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, 

“Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”

YapZ, begitulah kira-kira penjelasan singkatnya, hayo bagai mana dengan niat kalian semua? Yang pasti pasri niatan baik ya.